Di Jakarta, merokok di tempat umum, seperti di mal, rumah sakit, puskesmas, sekolah, kantor, hotel, bandara, terminal, dan angkutan umum, dilarang. Daerah lain belum punya aturan seperti ini, tetapi setidaknya aturan itu sudah mengirim sinyal: merokok menyusahkan banyak orang.
Peraturan gubernur (pergub) itu secara tak langsung memandang rendah harkat dan martabat perokok karena asumsinya tak ada lagi tempat bagi perokok di areal publik. Perokok dan kepulan asapnya dianggap pengganggu dan harus memisahkan diri dari kerumunan masyarakat bukan perokok.
Tujuan peraturan itu adalah mengembalikan hak warga yang selama ini ikut-ikutan menjadi perokok pasif akibat kanan-kirinya banyak orang merokok leluasa. Konon, perokok pasif jauh lebih mendapatkan bahaya daripada perokok aslinya.
Di sini Kompas Kampus tak akan memperdebatkan bahaya merokok. Tak penting apakah kita setuju dengan bahaya merokok bagi kesehatan atau tidak, yang jelas asap rokok yang mengepul di sekitar kita sudah cukup membuat yang bukan perokok kesal. Bagi perokok, penjelasan kesehatan, agama, ataupun penjelasan ideologis tetap tak mampu menggoyahkan hasrat mengisap rokok. Kecanduan menjadi alasan pembenar bagi mereka yang tetap merokok. Di luar itu, ada juga yang iseng dan solidaritas teman. Sebagian lagi merokok karena ingin mendapatkan predikat keren.
Nah, dulu, sampai era kampus awal 1980-an, laki-laki yang merokok memang sempat dianggap keren, berani, gagah, dan jantan. Termasuk perempuan yang merokok, juga dianggap seksi, asyik, dan percaya diri. Sekarang?
Fenomena Slash
Lihat saja foto Slash atau Saul Hudson, gitaris legendaris yang dulu ngetop ketika mengibarkan bendera band Guns N’ Roses. Sosok gitaris keren dengan topi khas dan rokok terselip, identik dengan Slash.
Namun, banyak yang tak tahu kalau kesan seperti itu sudah berakhir ketika Slash ”bertobat”, tidak nge-drug, minum-minum, bahkan berusaha tidak merokok. Dia menghentikan kebiasaan merokok karena alasan keluarga (punya bayi), kesehatan (terkena pneumonia), dan alasan sejarah (ibunya meninggal karena kanker paru-paru).
Fenomena Slash yang berhenti merokok ramai diperbincangkan di internet karena usaha jatuh bangun Slash untuk berhenti merokok tak mudah. Beberapa kali dia gagal.
Fenomena Slash menumbangkan asumsi bahwa merokok bagi anak band beraliran cadas adalah keren dan ”wajib”. Slash mengganti merokok dengan kebiasaan yang benar-benar dianggap keren oleh tren dunia, main Twitter (Kompas, Sabtu, 19 Jun 2010).
Setiap kelompok sosial punya alasan tersendiri untuk merokok. Biasanya mereka telanjur mencandu sehingga tak ada yang ditakuti soal bahaya merokok.
Kakek-nenek kita bisa menjawab, ”Saya sudah sekian tahun merokok tak mati-mati juga, kok,” plus ada embel-embel komentar, ”Setiap orang pasti juga akan mati.” Bagi para aktivis, mereka juga bisa menjawab, ”Metromini yang polusinya luar biasa tidak diapa-apakan, kok yang merokok diuber-uber.”
Masihkah keren?
Apakah generasi kampus sekarang masih menganggap keren mereka yang merokok? Selama sepekan, Kompas Kampus mengundang komentar dari mahasiswa soal persepsi laki-laki dan perempuan yang merokok.
Hasilnya, hampir semua komentar menyatakan merokok bukan lagi tren. Mereka tak suka melihat lak-laki dan perempuan merokok. Mereka bahkan memberi predikat zadul (zaman dulu) dan ”tak berpendidikan” bagi mereka yang masih memaksakan diri untuk menabrak tren di kampus itu.
”Merokok di kampus biar dikatakan keren? Ah, saya sangat tidak setuju! Mungkin kalau masa-masa SMA dulu bisa dikatakan begitu, tetapi kalau kuliah enggak lagi, masanya sudah beda,” kata Ngali Mahfud, mahasiswa STAIN Salatiga.
Namun, beberapa orang yang tak menyadari perubahan tren tetap merokok karena merasa persepsi keren akan luntur tanpa ditemani rokok.
”Persepsi salah itu mengokohkan anggapan penampilan perokok yang katanya keren dengan sebatang rokok menyelip di antara jari dan asap mengepul,” kata Sheilla Novella, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro.
Tren zaman yang berubah, dengan serbuan benda-benda berbau teknologi, mulai mengalihkan kebiasaan merokok pada hal-hal yang berbau gadget. Tak semua orang sepakat, tetapi dampaknya semakin memberi banyak alternatif untuk menghabiskan waktu luang.
Mahasiswa Politeknik Caltex Riau, Risky Ade Maisal, menuturkan, bila ada yang mengatakan merokok di kampus ketinggalan zaman, itu benar. Zaman kini, kata Risky, anak muda lebih nyaman dengan telepon seluler, laptop, iPod, robot, dan peranti canggih lainnya.
”Buktinya, mahasiswa yang tidak merokok tetapi bisa menggunakan peranti canggih lebih dibilang keren daripada mahasiswa yang cuma merokok. Merokok adalah lambang ketinggalan zaman,” tutur Risky.
Dwi Santosa, mahasiswa Universitas Pelita Harapan, mengatakan, perokok bukanlah tipe orang bebas seperti yang selama ini dicitrakan.
”Banyak yang ingin berhenti dari kebiasaan mengisap rokok, tetapi tidak mampu melakukannya. Mereka telanjur terjerat candu,” katanya.
Dengan kata lain, perokok dapat dikatakan sebagai budak dari rokok. ”Sama sekali tidak keren menjadi seorang budak, apalagi budak rokok,” ungkap Dwi.
Sebaliknya, para perokok tetap beralasan, merokok adalah cara yang efektif untuk bersosialisasi. Istilah kerennya, sebatang rokok adalah negosiator ulung untuk berinteraksi. Namun, tentu saja dalam konteks di lingkungan perokok.
Di konteks masyarakat bukan perokok, asap rokok adalah masalah besar dan menyusahkan banyak orang. Beberapa kampus aktif menggalakkan kampanye udara bersih tanpa asap rokok walau belum banyak kampus yang menjalankannya.
”Sejauh ini, kampus saya mulai menampakkan komitmen untuk pelaksanaan kawasan bebas rokok. Misalnya, tak membolehkan sponsor rokok dalam acara kampus, juga beasiswa ataupun bantuan pendidikan yang bersumber dari perusahaan rokok ditolak tegas,” kata Happy Ferdian Syah Utomo, mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.
Zaman telah berubah. Jika dulu sebatang rokok dianggap simbol pergaulan sosial, boleh jadi kini sebatang rokok adalah simbol antisosial dan penyebab kita diuber-uber razia Pemprov DKI Jakarta. Enggak keren, kan? (Amir Sodikin/Dwi As Setianingsih)
------
Sumber: kompas.com
Selasa, 26 Oktober 2010 | 03:40 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar